Pengertian Lingkungan

Juni 26th, 2011 by Salmin Mointi

A. PENGERTIAN LINGKUNGAN

Kehidupan manusia tidak bisa dipisahkan dari lingkungannya. Baik lingkungan alam maupun lingkungan sosial. Kita bernapas memerlukan udara dari lingkungan sekitar. Kita makan, minum, menjaga kesehatan, semuanya memerlukan lingkungan.

Pengertian lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar manusia yang memengaruhi perkembangan kehidupan manusia baik langsung maupun tidak langsung. Lingkungan bisa dibedakan menjadi lingkungan biotik dan abiotik. Jika kalian berada di sekolah, lingkungan biotiknya berupa teman-teman sekolah, bapak ibu guru serta karyawan, dan semua orang yang ada di sekolah, juga berbagai jenis tumbuhan yang ada di kebun sekolah serta hewan-hewan yang ada di sekitarnya. Adapun lingkungan abiotik berupa udara, meja kursi, papan tulis, gedung sekolah, dan berbagai macam benda mati yang ada di sekitar.

Seringkali lingkungan yang terdiri dari sesama manusia disebut juga sebagai lingkungan sosial. Lingkungan sosial inilah yang membentuk sistem pergaulan yang besar peranannya dalam membentuk kepribadian seseorang.

B. LINGKUNGAN HIDUP

Secara khusus, kita sering menggunakan istilah lingkungan hidup untuk menyebutkan segala sesuatu yang berpengaruh terhadap kelangsungan hidup segenap makhluk hidup di bumi.

Adapun berdasarkan UU No. 23 Tahun 1997, lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda dan kesatuan makhluk hidup termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya yang melangsungkan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya.

Unsur-unsur lingkungan hidup dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:

1. Unsur Hayati (Biotik)

Unsur hayati (biotik), yaitu unsur lingkungan hidup yang terdiri dari makhluk hidup, seperti manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan jasad renik. Jika kalian berada di kebun sekolah, maka lingkungan hayatinya didominasi oleh tumbuhan. Tetapi jika berada di dalam kelas, maka lingkungan hayati yang dominan adalah teman-teman atau sesama manusia.

2. Unsur Sosial Budaya

Unsur sosial budaya, yaitu lingkungan sosial dan budaya yang dibuat manusia yang merupakan sistem nilai, gagasan, dan keyakinan dalam perilaku sebagai makhluk sosial. Kehidupan masyarakat dapat mencapai keteraturan berkat adanya sistem nilai dan norma yang diakui dan ditaati oleh segenap anggota masyarakat.

3. Unsur Fisik (Abiotik)

Unsur fisik (abiotik), yaitu unsur lingkungan hidup yang terdiri dari benda-benda tidak hidup, seperti tanah, air, udara, iklim, dan lain-lain. Keberadaan lingkungan fisik sangat besar peranannya bagi kelangsungan hidup segenap kehidupan di bumi. Bayangkan, apa yang terjadi jika air tak ada lagi di muka bumi atau udara yang dipenuhi asap? Tentu saja kehidupan di muka bumi tidak akan berlangsung secara wajar. Akan terjadi bencana kekeringan, banyak hewan dan tumbuhan mati, perubahan musim yang tidak teratur, munculnya berbagai penyakit, dan lain-lain.

C. KERUSAKAN LINGKUNGAN HIDUP

Berdasarkan faktor penyebabnya, bentuk kerusakan lingkungan hidup dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu:

1. Bentuk Kerusakan Lingkungan Hidup Akibat Peristiwa Alam

Berbagai bentuk bencana alam yang akhir-akhir ini banyak melanda Indonesia telah menimbulkan dampak rusaknya lingkungan hidup. Dahsyatnya gelombang tsunami yang memporak-porandakan bumi Serambi Mekah dan Nias, serta gempa 5 skala Ritcher yang meratakan kawasan DIY dan sekitarnya, merupakan contoh fenomena alam yang dalam sekejap mampu merubah bentuk muka bumi.

Peristiwa alam lainnya yang berdampak pada kerusakan lingkungan hidup antara lain:

a. Letusan gunung berapi

Letusan gunung berapi terjadi karena aktivitas magma di perut bumi yang menimbulkan tekanan kuat keluar melalui puncak gunung berapi.

Bahaya yang ditimbulkan oleh letusan gunung berapi antara

lain berupa:

1) Hujan abu vulkanik, menyebabkan gangguan pernafasan.

2) Lava panas, merusak, dan mematikan apa pun yang dilalui.

3) Awan panas, dapat mematikan makhluk hidup yang dilalui.

4) Gas yang mengandung racun.

5) Material padat (batuan, kerikil, pasir), dapat menimpa perumahan, dan lain-lain.

b. Gempa bumi

Gempa bumi adalah getaran kulit bumi yang bisa disebabkan karena beberapa hal, di antaranya kegiatan magma (aktivitas gunung berapi), terjadinya tanah turun, maupun karena gerakan lempeng di dasar samudra. Manusia dapat mengukur berapa intensitas gempa, namun manusia sama sekali tidak dapat memprediksikan kapan terjadinya gempa.

Oleh karena itu, bahaya yang ditimbulkan oleh gempa lebih dahsyat dibandingkan dengan letusan gunung berapi. Pada saat gempa berlangsung terjadi beberapa peristiwa sebagai akibat langsung maupun tidak langsung, di antaranya:

1) Berbagai bangunan roboh.

2) Tanah di permukaan bumi merekah, jalan menjadi putus.

3) Tanah longsor akibat guncangan.

4) Terjadi banjir, akibat rusaknya tanggul.

5) Gempa yang terjadi di dasar laut dapat menyebabkan tsunami (gelombang pasang).

c. Angin topan

Angin topan terjadi akibat aliran udara dari kawasan yang bertekanan tinggi menuju ke kawasan bertekanan rendah.

Perbedaan tekanan udara ini terjadi karena perbedaan suhu udara yang mencolok. Serangan angin topan bagi negara-negara di kawasan Samudra Pasifik dan Atlantik merupakan hal yang biasa terjadi. Bagi wilayah-wilayah di kawasan California, Texas, sampai di kawasan Asia seperti Korea dan Taiwan, bahaya angin topan merupakan bencana musiman. Tetapi bagi Indonesia baru dirasakan di pertengahan tahun 2007. Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi perubahan iklim di Indonesia yang tak lain disebabkan oleh adanya gejala pemanasan global.

Bahaya angin topan bisa diprediksi melalui foto satelit yang menggambarkan keadaan atmosfer bumi, termasuk gambar terbentuknya angin topan, arah, dan kecepatannya. Serangan angin topan (puting beliung) dapat menimbulkan kerusakan lingkungan hidup dalam bentuk:

1) Merobohkan bangunan.

2) Rusaknya areal pertanian dan perkebunan.

3) Membahayakan penerbangan.

4) Menimbulkan ombak besar yang dapat menenggelamkan kapal.

2. Kerusakan Lingkungan Hidup karena Faktor Manusia

Manusia sebagai penguasa lingkungan hidup di bumi berperan besar dalam menentukan kelestarian lingkungan hidup. Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang berakal budi mampu merubah wajah dunia dari pola kehidupan sederhana sampai ke bentuk kehidupan modern seperti sekarang ini. Namun sayang, seringkali apa yang dilakukan manusia tidak diimbangi dengan pemikiran akan masa depan kehidupan generasi berikutnya. Banyak kemajuan yang diraih oleh manusia membawa dampak buruk terhadap kelangsungan lingkungan hidup.

Beberapa bentuk kerusakan lingkungan hidup karena faktor manusia, antara lain:

a. Terjadinya pencemaran (pencemaran udara, air, tanah, dan suara) sebagai dampak adanya kawasan industri.

b. Terjadinya banjir, sebagai dampak buruknya drainase atau sistem pembuangan air dan kesalahan dalam menjaga daerah aliran sungai dan dampak pengrusakan hutan.

c. Terjadinya tanah longsor, sebagai dampak langsung dari rusaknya hutan.

Beberapa ulah manusia yang baik secara langsung maupun tidak langsung membawa dampak pada kerusakan lingkungan hidup antara lain:

a. Penebangan hutan secara liar (penggundulan hutan).

b. Perburuan liar.

c. Merusak hutan bakau.

d. Penimbunan rawa-rawa untuk pemukiman.

e. Pembuangan sampah di sembarang tempat.

f. Bangunan liar di daerah aliran sungai (DAS).

g. Pemanfaatan sumber daya alam secara berlebihan di luar batas.

D. UPAYA PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP DALAM PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN

Melestarikan lingkungan hidup merupakan kebutuhan yang tidak bisa ditunda lagi dan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau pemimpin negara saja, melainkan tanggung jawab setiap insan di bumi, dari balita sampai manula. Setiap orang harus melakukan usaha untuk menyelamatkan lingkungan hidup di sekitar kita sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Sekecil apa pun usaha yang kita lakukan sangat besar manfaatnya bagi terwujudnya bumi yang layak huni bagi generasi anak cucu kita kelak.

Upaya pemerintah untuk mewujudkan kehidupan adil dan makmur bagi rakyatnya tanpa harus menimbulkan kerusakan lingkungan ditindaklanjuti dengan menyusun program pembangunan berkelanjutan yang sering disebut sebagai pembangunan berwawasan lingkungan.

Pembangunan berwawasan lingkungan adalah usaha meningkatkan kualitas manusia secara bertahap dengan memerhatikan faktor lingkungan. Pembangunan berwawasan lingkungan dikenal dengan nama Pembangunan Berkelanjutan. Konsep pembangunan berkelanjutan merupakan kesepakatan hasil KTT Bumi di Rio de Jeniro tahun 1992. Di dalamnya terkandung 2 gagasan penting, yaitu:

a. Gagasan kebutuhan, khususnya kebutuhan pokok manusia untuk menopang hidup.

b. Gagasan keterbatasan, yaitu keterbatasan kemampuan lingkungan untuk memenuhi kebutuhan baik masa sekarang maupun masa yang akan datang.

Adapun ciri-ciri Pembangunan Berwawasan Lingkungan adalah sebagai berikut:

a. Menjamin pemerataan dan keadilan.

b. Menghargai keanekaragaman hayati.

c. Menggunakan pendekatan integratif.

d. Menggunakan pandangan jangka panjang.

Pada masa reformasi sekarang ini, pembangunan nasional dilaksanakan tidak lagi berdasarkan GBHN dan Propenas, tetapi berdasarkan UU No. 25 Tahun 2000, tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN).

Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional mempunyai tujuan di antaranya:

a. Menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien, efektif, berkeadilan, dan berkelanjutan.

b. Mengoptimalkan partisipasi masyarakat.

c. Menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, dan pengawasan.

1. Upaya yang Dilakukan Pemerintah

Pemerintah sebagai penanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyatnya memiliki tanggung jawab besar dalam upaya memikirkan dan mewujudkan terbentuknya pelestarian lingkungan hidup. Hal-hal yang dilakukan pemerintah antara lain:

a. Mengeluarkan UU Pokok Agraria No. 5 Tahun 1960 yang mengatur tentang Tata Guna Tanah.

b. Menerbitkan UU No. 4 Tahun 1982, tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup.

c. Memberlakukan Peraturan Pemerintah RI No. 24 Tahun 1986, tentang AMDAL (Analisa Mengenai Dampak Lingkungan).

d. Pada tahun 1991, pemerintah membentuk Badan Pengendalian Lingkungan, dengan tujuan pokoknya:

1) Menanggulangi kasus pencemaran.

2) Mengawasi bahan berbahaya dan beracun (B3).

3) Melakukan penilaian analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL).

e. Pemerintah mencanangkan gerakan menanam sejuta pohon.

2. Upaya Pelestarian Lingkungan Hidup oleh Masyarakat Bersama Pemerintah

Sebagai warga negara yang baik, masyarakat harus memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kelestarian lingkungan hidup di sekitarnya sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Beberapa upaya yang dapat dilakuklan masyarakat berkaitan dengan pelestarian lingkungan hidup antara lain:

a. Pelestarian tanah (tanah datar, lahan miring/perbukitan)

Terjadinya bencana tanah longsor dan banjir menunjukkan peristiwa yang berkaitan dengan masalah tanah. Banjir telah menyebabkan pengikisan lapisan tanah oleh aliran air yang disebut erosi yang berdampak pada hilangnya kesuburan tanah serta terkikisnya lapisan tanah dari permukaan bumi. Tanah longsor disebabkan karena tak ada lagi unsur yang menahan lapisan tanah pada tempatnya sehingga menimbulkan kerusakan. Jika hal tersebut dibiarkan terus berlangsung, maka bukan mustahil jika lingkungan berubah menjadi padang tandus. Upaya pelestarian tanah dapat dilakukan dengan cara menggalakkan kegiatan menanam pohon atau penghijauan kembali (reboisasi) terhadap tanah yang semula gundul. Untuk daerah perbukitan atau pegunungan yang posisi tanahnya miring perlu dibangun terasering atau sengkedan, sehingga mampu menghambat laju aliran air hujan.

b. Pelestarian udara

Udara merupakan unsur vital bagi kehidupan, karena setiap organisme bernapas memerlukan udara. Kalian mengetahui bahwa dalam udara terkandung beranekaragam gas, salah satunya oksigen.

Udara yang kotor karena debu atau pun asap sisa pembakaran menyebabkan kadar oksigen berkurang. Keadaan ini sangat membahayakan bagi kelangsungan hidup setiap organisme. Maka perlu diupayakan kiat-kiat untuk menjaga kesegaran udara lingkungan agar tetap bersih, segar, dan sehat. Upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga agar udara tetap bersih dan sehat antara lain:

1) Menggalakkan penanaman pohon atau pun tanaman hias di sekitar kita

Tanaman dapat menyerap gas-gas yang membahayakan bagi manusia. Tanaman mampu memproduksi oksigen melalui proses fotosintesis. Rusaknya hutan menyebabkan jutaan tanaman lenyap sehingga produksi oksigen bagi atmosfer jauh berkurang, di samping itu tumbuhan juga mengeluarkan uap air, sehingga kelembapan udara akan tetap terjaga.

2) Mengupayakan pengurangan emisi atau pembuangan gas sisa pembakaran, baik pembakaran hutan maupun pembakaran mesin Asap yang keluar dari knalpot kendaraan dan cerobong asap merupakan penyumbang terbesar kotornya udara di perkotaan dan kawasan industri. Salah satu upaya pengurangan emisi gas berbahaya ke udara adalah dengan menggunakan bahan industri yang aman bagi lingkungan, serta pemasangan filter pada cerobong asap pabrik.

3) Mengurangi atau bahkan menghindari pemakaian gas kimia yang dapat merusak lapisan ozon di atmosfer Gas freon yang digunakan untuk pendingin pada AC maupun kulkas serta dipergunakan di berbagai produk kosmetika, adalah gas yang dapat bersenyawa dengan gas ozon, sehingga mengakibatkan lapisan ozon menyusut. Lapisan ozon adalah lapisan di atmosfer yang berperan sebagai filter bagi bumi, karena mampu memantulkan kembali sinar ultraviolet ke luar angkasa yang dipancarkan oleh matahari. Sinar ultraviolet yang berlebihan akan merusakkan jaringan kulit dan menyebabkan meningkatnya suhu udara. Pemanasan global terjadi di antaranya karena makin menipisnya lapisan ozon di atmosfer.

c. Pelestarian hutan

Eksploitasi hutan yang terus menerus berlangsung sejak dahulu hingga kini tanpa diimbangi dengan penanaman kembali, menyebabkan kawasan hutan menjadi rusak. Pembalakan liar yang dilakukan manusia merupakan salah satu penyebab utama terjadinya kerusakan hutan. Padahal hutan merupakan penopang kelestarian kehidupan di bumi, sebab hutan bukan hanya menyediakan bahan pangan maupun bahan produksi, melainkan juga penghasil oksigen, penahan lapisan tanah, dan menyimpan cadangan air.

Upaya yang dapat dilakukan untuk melestarikan hutan:

1) Reboisasi atau penanaman kembali hutan yang gundul.

2) Melarang pembabatan hutan secara sewenang-wenang.

3) Menerapkan sistem tebang pilih dalam menebang pohon.

4) Menerapkan sistem tebang–tanam dalam kegiatan penebangan hutan.

5) Menerapkan sanksi yang berat bagi mereka yang melanggar ketentuan mengenai pengelolaan hutan.

d. Pelestarian laut dan pantai

Seperti halnya hutan, laut juga sebagai sumber daya alam potensial. Kerusakan biota laut dan pantai banyak disebabkan karena ulah manusia. Pengambilan pasir pantai, karang di laut, pengrusakan hutan bakau, merupakan kegatan-kegiatan manusia yang mengancam kelestarian laut dan pantai. Terjadinya abrasi yang mengancam kelestarian pantai disebabkan telah hilangnya hutan bakau di sekitar pantai yang merupakan pelindung alami terhadap gempuran ombak.

Adapun upaya untuk melestarikan laut dan pantai dapat dilakukan dengan cara:

1) Melakukan reklamasi pantai dengan menanam kembali tanaman bakau di areal sekitar pantai.

2) Melarang pengambilan batu karang yang ada di sekitar pantai maupun di dasar laut, karena karang merupakan habitat ikan dan tanaman laut.

3) Melarang pemakaian bahan peledak dan bahan kimia lainnya dalam mencari ikan.

4) Melarang pemakaian pukat harimau untuk mencari ikan.

e. Pelestarian flora dan fauna

Kehidupan di bumi merupakan sistem ketergantungan antara manusia, hewan, tumbuhan, dan alam sekitarnya. Terputusnya salah satu mata rantai dari sistem tersebut akan mengakibatkan gangguan dalam kehidupan.

Oleh karena itu, kelestarian flora dan fauna merupakan hal yang mutlak diperhatikan demi kelangsungan hidup manusia. Upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga kelestarian flora dan fauna di antaranya adalah:

1) Mendirikan cagar alam dan suaka margasatwa.

2) Melarang kegiatan perburuan liar.

3) Menggalakkan kegiatan penghijauan.

DAFTAR PUSTAKA

http://forum.um.ac.id/index.php?topic=22054.0

http://afand.abatasa.com/post/detail/2405/linkungan-hidup-kerusakan-lingkungan-pengertian-kerusakan-lingkungan-dan-pelestarian-

Penyakit Infeksi Jamur

Juni 26th, 2011 by Salmin Mointi

BAB I

PENDAHULUAN

Penyakit infeksi masih tetap merupakan problem utama kesehatan di

Indonesia. Penyakit infeksi jamur paru atau yang disebut dengan mikosis paru

selama ini masih merupakan penyakit yang relatif jarang dibicarakan. Akan tetapi

akhir-akhir ini perhatian terhadap penyakit ini semakin meningkat dan kejadian

infeksi jamur paru semakin sering dilaporkan.1 Hal ini mungkin akibat dari ,

meningkatnya kesadaran dan usaha penemuan infeksi jamur dengan berbagai

cara menggunakan teknik yang tepat, bertambahnya kecepatan tumbuh jamur

sebagai akibat cara pengobatan modern, terutama penggunaan antibiotik,

berspektrum luas, atau kombinasi dari berbagai antibiotik, penggunaan

kortikosteroid dan obat imunosuppressif lainnya serta penggunaan sitostatika,

terdapatnya faktor predisposisi yaitu penyakit kronik yang berat termasuk

penyakit kegananasan, dengan meningkatnya umur harapan hidup akan

meningkatkan insiden penyakit jamur paru, mobilitas dari manusia tinggi

sehingga kemungkinan memasuki daerah endemis fungi patogen semakin

tinggi.2,3,4,5,6

Peranan infeksi ditambah dengan meningkatnya umur harapan hidup dari

sekitar 45 tahun pada tahun tujuh puluhan, diperkirakan menjadi sekitar 70

tahun pada tahun 2000 akan meningkatkan insiden penyakit jamur paru di

Indonesia.7

Walaupun masih relatif jarang bila dibandingkan dengan infeksi bakterial

atau virus, infeksi jamur paru penting karena dapat diobati dan keterlambatan

pengobatan dapat berakibat fatal.8 Permasalahannya ialah bahwa baik gambaran

klinik maupun radiologik penderita mikosis paru tidak khas. 7,9

Jamur paru sering tidak lekas didiagnosa secara dini. Pasien baru

tertegakkan diagnosanya sebagai penderita jamur paru dalam keadaan sudah

lanjut atau terlambat, sehingga pengobatan sering tidak berhasil.9

Infeksi jamur paru dapat sebagai infeksi primer maupun sekunder.

Timbulnya infeksi sekunder pada paru disebabkan terdapatnya kelainan atau

kerusakan jaringan paru seperti pada TB paru berupa kavitas, bronkiectasis,

destroyed lung dan sebagainya.2

Gejala umum infeksi jamur paru sama dengan infeksi mikroba lainnya,

antara lain batuk-batuk, batuk darah, banyak dahak, sesak, demam, nyeri dada

dan bisa juga tanpa gejala.

Oleh karena infeksi jamur paru sering menyertai penyakit lain dan tidak

ada gejala yang khas sehingga infeksi jamur paru sering tidak terdiagnosa,

sehingga pengobatan terhadap infeksi jamur paru sering terlambat diberikan.2


©2004 Digitized by USU digital library


1



Infeksi jamur paru sebagai infeksi sekunder pada penderita TB paru akan

menambah permasalahan dalam pengobatan TB paru. Berbagai masalah yang

dijumpai dalam pengobatan penyakit TB paru antara lain: kesalahan diagnosa,

perlukah semua kasus diobati, obat yang adekuat, lama pengobatan, tata laksana

pada yang gagal serta pengobatan pada penderita dengan BTA negatif. 10,11,12

Dengan adanya infeksi jamur paru pada penderita TB paru akan

menambah permasalahan dalam pengobatan penyakit TB paru dan penderita

bekas TB paru.

BAB II

TINJAUAN KEPUSTAKAAN

MIKOSIS PARU

II.1 KLASIFIKASI MIKOSIS

Ada 3 pembagian utama jamur, yaitu: 1.4,7,8,13,14,15,16,17,18

1. Infeksi jamur superfisial (superfisial mycoses), menyerang kulit dan selaput

mukosa (pityriasis versicolor, dermatophytosis, superficial candidosis).

2. Inteksi jamur subkutan (subcutaneus mycoses), menyerang jaringan

subkutan dan struktur sekitarnya termasuk kulit dan tulang (mycetoma,

chromomycosis, sporotricosis).

3. Infeksi jamur systemik (sistemic mycoses), menyerang jaringan organ di

dalam tubuh (deep viscera).

Infeksi jamur sistemik adalah infeksi jamur yang menyerang organ dalam

misalnya paru, hati, limpa, traktus gastrointestinal dan menyebar lewat aliran

darah atau getah bening.

Penyakit jamur paru, termasuk kelompok infeksi jamur sistemik. Dapat

disebabkan oleh 2 kelompok jamur, yaitu:4,7,8,19,20,21,22

1. JAMUR PATOGEN SISTEMATIK

Jamur ini dapat menginovasi dan berkembang pada jaringan host normal

tanpa adanya predisposisi. Jumlahnya lebih sedikit Infeksi jamur patogen

sistemik pada paru yang sering terjadi adalah:

Histoplasmosis, disebabkan Histoplasma capsulatum.

Koksidioidornikosis, disebabkan oleh Coccidioides immitis.

Parakoksidioidornikosis, disebabkan oleh Paracoccidioides brasiliensis. 18,23

Blastomikosis, disebabkan oleh Blastomyces dermatitidis.

Kriptokokosis, disebabkan oleh Cryptococcus neoformans.

2. JAMUR OPORTUNISTIK

Organisme Oportunistik artinya dalam keadaan normal sifatnya non

patogen tetapi dapat berubah menjadi patogen bila keadaan tubuh melemah,

dimana mekanisme pertahanan tubuh terganggu.

lnfeksi jamur oportunistik temyata lebih sering terjadi dibandingkan infeksi

jamur patogen sistemik. lnfeksi ini umumnya terjadi pada penderita defisiensi

sistem pertahanan tubuh atau pasien-pasien dengan keadaan umum yang

lempah patient.2,24

lnfeksi jamur paru oportunistik yang sering terjadi adalah:

1. Kandidiasis paru.

2. Aspergilosis paru.


©2004 Digitized by USU digital library


2



II.2. EPIDEMIOLOGI MIKOSIS PARU

Meskipun beberapa jamur cenderung untuk berada atau tumbuh pada

suatu daerah geografis tertentu, seperti misalnya di Inggris jamur yang paling

banyak dijumpai ialah aspergillus, kandida, actinomyces dan cryptococcus.

Demikian pula jamur-jamur seperti histoplasma, coccidioides dan blastomyces

distribusinya secara geografis amat terbatas, namun transportasi yang semakin

lancar dan arus perpindahan penduduk yang makin cepat menyebabkan inteksi

jamur yang tadinya langka disesuatu daerah menjadi tidak langka lagi, dan ini

berarti resiko terinfeksi jamur bagi mereka yang berkecimpung dalam pekerjaan

di laboratorium akan semakin meningkat pula.8,25

Kecuali aktinomikosis dan kandidiasis, penyakit jamur paru umumnya

terjadi akibat menghirup spora jamur. Hampir seluruh jamur merupakan

organisme yang hidup di atas tanah (soil)8 Beberapa dari jamur tersebut untuk

pertumbuhannya memerlukan kondisi-kondisi khusus.

Pada umumnya jamur memilih hidup dan tumbuh di daerah yang basah

atau lembab. H capsulatum dan B dermatitides misalnya suka hidup di rawa-rawa

dekat sungai-sungai, sedangkan H capsulatum dan Cryptococcus neoformans

tumbuh subur pada tanah yang telah terkontaminasi kotoran burung ataupun

kotoran kelelawar (seperti di gua-gua yang banyak kelelawarnya). Satu-satunya

jamur yang memilih hidup subur di tanah yang padat dan kering ialah

Coccidioides immitis.

Berbeda dengan kebanyakan jamur pada umumnya, maka Kandida dan

actinomyces hidup komensal di dalam rongga pipi (buccal cavity) manusia.

Infeksi pada paru oleh kedua jenis jamur ini hanya terjadi apabila daya tahan

tubuh menurun.26 Oleh adanya kedua jamur tersebut yang hidup komensal di

rongga mulut, maka seseorang yang sputumnya akan diambil untuk atau sebagai

spesimen bagi pemeriksaan jamur, diharuskan berkumur-kumur beberapa kali

dengan air bersih sebelum sputumnya diambil.5

Sesuatu yang unik namun menarik perhatian ialah bahwa meskipun spora

jamur mudah menyebar kemana-mana, namun sangat jarang terjadi penularan

penyakit jamur paru dari seseorang ke orang lain. Satu-satunya yang pernah

dilaporkan ialah epidemi koksidioidomikosis yang mengenai 6 kasus dan diduga

terjadinya melalui penularan orang ke orang.5 Tidak terdeteksinya adanya

penularan pada jamur paru boleh jadi karena penyakit ini rnemberi gambaran

subklinis artinya dengan gejala yang tidak khas dan tak menonjol.

Baik Actinomyces israeli dan Candida albicans masing-masing

menyebabkan candidiasis dan actinomycosis. Sebagaimana telah dikemukakan

keduanya bersifat parasitik yang obligatoir dan mengadakan simbiose dengan

tuan rumahnya sampai suatu saat terjadi atau terdapat faktor-faktor predisposisi

tertentu terutama proses-proses devitalisasi (mendapat terapi antibiotika, atau

steroid atau radiomimetik jangka panjang, ataupun menderita penyakit-penyakit

kronis berat). Pada keadaan-keadaan tersebut mekanisme pertahanan tubuh

yang dalam keadaan normal mampu mengontrol pertumbuhan dan patogenitas

jamur menjadi berkurang; dan dalam hal seperti ini jamur candida yang tadinya

bersifat saprofit menjadi patogen, dan terjadilah suatu infeksi opportunistik.8,26

Telah dibuktikan adanya antibodi terhadap C albicans dalam darah

manusia sejak usia 6-8 bulan dan bahwa faktor atau antibodi tersebut menurun

pada keadaan menderita leukemi akut, stadium akhir leukemi kronik, retikulosis

maligna; multiple myeloma dan mieiosis oritremik.


©2004 Digitized by USU digital library


3



Spora dari jamur-jamur yang menyebabkan histoplasmosis,

coccidioidomycesis, kriptokokosis dan aspergilosis dihasilkan di permukaan tanah

(soil) terbawa dan tersebar kemana-mana oleh angin, lalu terhirup manusia dan

menimbulkan infeksi. Hingga saat ini hanya 2 jenis jamur yang menimbulkan

infeksi paru yang tidak dijumpai hidup diatas permukaan tanah, yaitu

Blastomyces dermatitidis dan Paracoccidioides brasiliensis. Distribusi geografis

jamur Coccidioides imitis dibatasi oleh kondisi iklim. lnfeksi oleh jamur ini biasa

dijumpai di Amerika Serikat bagian Barat Daya, Mexico dan Venezuela, yaitu

daerah-daerah yang kering, sebab sebagaimana dikemukakan diatas tadi jamur

ini suka hidup di permukaan tanah yang padat dan kering. Penderita infeksi

jamur ini banyak dari suku-suku Indian Amerika yang diam di daerah-daerah

tersebut.8,26

Sebagaimana juga telah disebutkan Histoplasma capsulatum dan

Cryptococcus neoformans suka hidup di lingkungan yang tercemar kotoran

burung atau kelelawar. Histoplasma capsulatum menimbulkan penyakit infeksi

jamur dengan gejala mirip influenzae pada penyelidik-penyelidik di Venezuela dan

Afrika Selatan sehingga disebut juga dengan penyakit “Cave disease”. Diperlukan

masa bertahun tahun sejak seseorang terinfeksi dengan jamur Histoplasma

capsulatum sampai terjadinya penyakit muncul dengan gejala klinis yang jelas.5

Kriptokokosis atau penyakit yang disebut infeksi jamur cryptococus

neoformans terjadi bila seseorang termakan buah-buahan atau terminum susu

yang telah tercemari atau terkontaminasi dengan kotoran burung yang

mengandung jamur tersebut. Mastitis pada lembu bisa pula akibat infeksi jamur

Cryptoccus neoformans, sehingga terminum susu lembu yang mengidap mastitis

bisa pula mengundang infeksi jamur tersebut.8

II.3. INSIDENSI

lnsidensi atau kejadian infeksi jamur paru belum diketahui secara pasti.

Yang jelas ialah bahwa kejadian infeksi jamur di paru semakin sering dengan

makin meningkatnya penggunaan jangka panjang berbagai antibiotika.

kortikosteroid, radiomimetik. Infeksi Candida albicans secara lokal seperti di

mulut, esotagus, usus dan vagina nampak makin sering, sedangkan kandidiasis

sistemik relatif masih jarang.8

Aktinomikosis bisa dijumpai di banyak negara, namun sejak

diketemukannya penisilin penyakit ini makin jarang, terutama aktinomikosis yang

kronis dengan pembentukan sinus-sinus, sudah semakin langka.

Di daerah-daerah endemik koksidioidomikosis, hampir 100% populasi

terinfeksi, namun hanya sekitar 25% yang memperlihatkan gejala klinis, dan

sebagian besar hanya berupa mirip influensa saja dan hanya 0,2% menunjukkan

histoplasmosis sistemik.

Aspergillus fumigatus telah dilaporkan dijumpai pada sekitar 10%

penderita dengan bronkhitis dan pada persentasi yang lebih banyak lagi dijumpai

pada penderita asma. Jamur ini merupakan kontaminan yang sering

dilaboratorium-laboratorium, sehingga bila jamur ini berhasil di isolir dari suatu

spesimen belum berarti bahwa jamur ini memang sebagai penyebab suatu

penyakit atau kelainan, namun bila dijumpai kultur berulang-ulang tetap hasilnya

positif, maka hal ini suatu sugestif, dan memang bukti-bukti menyatakan bahwa

Aspergilosis bronkopulmonal lebih sering dari yang diperkirakan sebelumnya.

Angka kekerapan mikosis paru di dunia dan di Indonesia belum diketahui

secara pasti. Walaupun infeksi jamur lokal seperti pada mulut, esofagus, usus

dan vagina cukup sering, namun yang bersifat sistemik termasuk di paru tidak


©2004 Digitized by USU digital library


4



sebanyak itu. Begitu pula, walaupun pada daerah endemik infeksi oleh

koksidioidomikosis dapat mencapai 100%, tapi yang sakit secara klinik mungkin

hanya 20%.8,27 Masalah lain adalah karena sulitnya mendiagnosis mikosis paru.

Sediaan apus sputum, biakan jamur, pemeriksaan histologik paru dan uji

serologikpun kadang hasilnya membingungkan. Dan penyakit-penyakit infeksi

jamur paru tersebut yang banyak diketemukan di Indonesia adalah Kandidiasis

paru, namun belum diketahui berapa besar prevalensinya.2,28 Namun demikian

adanya kecenderungan peningkatan beberapa penyakit jamur paru akibat

berbagai situasi di Indonesia harus diantisipasi berdasarkan hal-hal sebagai

berikut:6

1. Masih tingginya kekerapan TB paru yang dengan obat anti TB dapat

disembuhkan namun sering meninggalkan lesi sisa seperti kavitas,

bronkiektasis,”destroyed lung” dsb.

2. Penggunaan steroid sistemik dan aerosol yang merupakan pengobatan utama

pada penderita asma dapat menimbulkan infeksi jamur sekunder.

3. Masih tingginya kekerapan bronkiektasis yang sering mendapat terapi

antibiotika berulang.

4. Meningkatnya kasus kanker paru akhir-akhir ini disertai penurunan daya

tahan tubuh memudahkan tumbuhnya jamur.

5. Keadaan-keadaan “immunocompromized” akibat penyakit lain, meningkatkan

resiko infeksi jamur sistemik atau lokal di paru.

Aspergilosis primer sangat jarang ditemukan, yang banyak ditemukan

adalah Aspergilosis sekunder akibat adanya kelainan pada paru seperti TB paru,

bronkiektasis, asma bronkial, PPOM, asbestosis, kanker paru, kelainan sistemik

seperti leukemia, anemia plastik, DM,AIDS, transplantasi organ.2

Di Indonesia data angka kejadian penyakit jamur paru belum ada hanya

beberapa laporan mengenai infeksi jamur paru telah dilaporkan. Namun demikian

adanya kecenderungan peningkatan kekerapan penyakit jamur paru akibat

berbagai situasi di Indonesia harus diantisipasi berdasarkan masih tingginya

kekerapan TB paru yang dengan obat anti tuberkulosa dapat disembuhkan

namun meninggalkan lesi sisa seperti kavitas, bronkiektasis, destroyed lung, dan

sebagainya.

Suryatenggara dan kawan-kawan melaporkan hasil penelitian pemeriksaan

jamur pada bilasan bronkus di Bagian Paru RS HUSADA Jakarta tahun 1994/1995

mendapatkan 30 penderita (45%) dengan jamur positif dari 66 penderita yang

diperiksa ke arab penyakit jamur. Dari 30 penderita yang positip jamur terdiri

dari Candida sp 27, Aspergillus fumigatus 2 dan Aspergillus sp 1 penderita.13

Suryatenggara dan kawan-kawan juga telah melakukan penelitian

retrospektif di UPF Paru RSVP Persahabatan Jakarta pada 28 penderita penyakit

paru yang dicurigai kemungkinan menderita infeksi jamur paru. Diteliti

kebelakang mulai tahun 1994 sampai Januari 1993 , penderita yang dilakukan

pemeriksaan jamur baik pemeriksaan sputum, bilasan bronkus, biopsi, hasil

reseksi maupun pemeriksaan serologis darah dll,didapatkan hasil 23 penderita.

(82,1 %) positif jamur. Kebanyakan yang positif adalah penderita dengan TB

paru, baik yang masih aktif maupun yang sudah tidak aktif lagi. Hal ini

disebabkan adanya kerusakan jaringan paru atau saluran nafas akibat penyakit

tuberkulosisnya hingga memudarkan terjadinya infeksi sekunder dengan

jamur.6,32

Azhar Tanjung dkk selama 3 tahun ( 1980 -1983 ) melakukan penelitian

jamur pada dahak penderita, dari 131 bahan dahak telah dapat diisolasi 95

(72,51%) biakan. Frekwensi terbanyak adalah Candida sp ( 40,45% ) diikuti


©2004 Digitized by USU digital library


5

Puisi Tentang Ibu

Juni 26th, 2011 by Salmin Mointi
sayangi-ibuIbu…
adalah wanita yang telah melahirkanku
merawatku
membesarkanku
mendidikku
hingga diriku telah dewasa

Ibu…
adalah wanita yang selalu siaga tatkala aku dalam buaian
tatkala kaki-kakiku belum kuat untuk berdiri
tatkala perutku terasa lapar dan haus
tatkala kuterbangun di waktu pagi, siang dan malam

Ibu…
adalah wanita yang penuh perhatian
bila aku sakit
bila aku terjatuh
bila aku menangis
bila aku kesepian

Ibu…
telah kupandang wajahmu diwaktu tidur
terdapat sinar yang penuh dengan keridhoan
terdapat sinar yang penuh dengan kesabaran
terdapat sinar yang penuh dengan kasih dan sayang
terdapat sinar kelelahan karena aku

Aku yang selalu merepotkanmu
aku yang selalu menyita perhatianmu
aku yang telah menghabiskan air susumu
aku yang selalu menyusahkanmu hingga muncul tangismu

Ibu…
engkau menangis karena aku
engkau sedih karena aku
engkau menderita karena aku
engkau kurus karena aku
engkau korbankan segalanya untuk aku

Ibu…
jasamu tiada terbalas
jasamu tiada terbeli
jasamu tiada akhir
jasamu tiada tara
jasamu terlukis indah di dalam surga

Ibu…
hanya do’a yang bisa kupersembahkan untukmu
karena jasamu
tiada terbalas

Hanya tangisku sebagai saksi
atas rasa cintaku padamu

Ibu…, I LOVE YOU SO MUCH
juga kepada Ayah…!!!

Tempat Penuh Ornamen

Juni 26th, 2011 by Salmin Mointi

jembatan-teluk-paluSelain obyek wisata alamnya yang sudah terkenal seperti Teluk Palu, kini Kota Palu memiliki tempat nongkrong baru, bagi anak muda  yaitu Jembatan Teluk Palu (Jembatan Palu IV). Jembatan Palu IV merupakan sebuah jembatan yang terletak di Kota Palu, Sulawesi Tengah, Indonesia. Jembatan ini diresmikan pada Mei 2006 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Jembatan ini membentang di atas Teluk Talise ini berada di kelurahan Besusu dan Lere, yang menghubungkan kecamatan Palu Timur dan Palu Barat. Jembatan kuning ini merupakan jembatan lengkung pertama di Indonesia dan ketiga di dunia setelah Jepang dan Perancis. yach,, mumpung fikiran lagi error, atau strezz,, mending jalan-jalan ke tempat ini kalau menjelang sore,, wweeehhh,, refresh,, refresh..  dan ambil foto juga keren Bro, karena latar kalau menjelang sore, ada kemera-merahan,, hihih gak percaya,, buktikan sendiri, apalagi kalau sama YayangX…. ckckc

Hello world!

Juni 25th, 2011 by Salmin Mointi

Selamat Datang Blogdetik.com. Ini merupakan postingan pertama Anda. Silahkan Edit atau hapus postingan ini, dan mulai ngeblog!